Kamis, 19 Mei 2011

KATA - KATA CINTA


Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini,
pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang.
*** 

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, 
tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang 
dan kamu tidak pernah memiliki keberanian
untuk menyatakan cintamu kepadanya.
 ***

Hal yang menyedihkan dalam hidup 
adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. 
Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti
dan kamu harus membiarkannya pergi.
 ***

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, 
ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, 
dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
 ***

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati,
sehinggala kamu kehilangannya. 
Pada saat itu,
tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
 ***

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta.
namun apabila sampai saatnya itu, 
raihlah dengan kedua tanganmu,
dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.
 ***

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. 
Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. 
Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
 ***

Bercinta memang mudah. 
Untuk dicintai juga memang mudah.
Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
***

Satu-satunya cara agar kita memperoleh kasih sayang,
ialah jangan menuntut agar kita dicintai,
tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
»»  READMORE...

Perang dan Cinta dari Tanah Jawa

  • Wed, May 18 3:45 PM WIT (sumber : yahoo)

    Oleh Isyana Artharini

    Pagelaran sendratari "Matah Ati" membawa penonton kembali ke tanah Jawa di abad ke-17. Opera ini berkisah tentang perjalanan raja pertama Jawa, Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa dalam meminang seorang gadis desa bernama Rubiah.
    Rubiah dari Desa Matah digambarkan sebagai seorang penari sekaligus pahlawan perang yang berusaha melawan penjajahan Belanda. Cerita cinta mereka ini dituturkan lewat adaptasi kontemporer tarian klasik Surakarta dan ditulis oleh keturunan keluarga Mangkunegara, Atilah Soeryadjaya.
    Salah satu keunikan dalam pagelaran ini adalah penggunaan panggung miring yang memungkinkan koreografi dalam opera ini terlihat dari berbagai arah. Sebelum dipentaskan di Indonesia, "Matah Ati" pernah dipentaskan di Teater Esplanade, Singapura, dan mendapatkan sambutan meriah. Sekolosal apakah opera "Matah Ati" ini? Simak saja foto-foto di bawah ini. (Foto-foto: Tempo/Jacky Rahmansyah)



    Pintu hidrolik yang menyebabkan kemiringan panggung dan menjadi tempat keluarnya penari.

»»  READMORE...